Selasa, 31 Desember 2013

Resolusi Jihad NU (Bagian I)

Posted by saudara kita 16.52.00, under | No comments



Resolusi Jihad NU (Bagian I)

BAGIAN I
UJIAN PERTAMA KEMERDEKAAN RI
Tanggal 17 Agustus 1945, benar-benar menjadi tonggak baru sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Setelah berjuang ratusan tahun melawan kolonialisme, Indonesia dengan tegas menyatakan kemerdekaannya. Soekarno-Hatta mewakili seluruh bangsa Indonesia dengan lantang membacakan naskah proklamasi Republik Indonesia yang kemudian disambut gegap gempita oleh seluruh rakyat Indonesia.
Pembacaan Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, di Jakarta.
Pembacaan Proklamasi Tanggal 17 Agustus 1945
Namun, pesta kemerdekaan itu tak berlangsung lama. Belum genap satu bulan merdeka, pada tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), persekutuan militer tentara sekutu yang bertugas untuk melucuti tentara Jepang di Indonesia yang sudah kalah perang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya.
Tentara sekutu yang di dalamnya ada tentara Belanda mendarat di kota-kota besar Indonesia
Tentara sekutu yang di dalamnya terdapat tentara Belanda mendarat di kota-kota besar Indonesia
Namun dibalik itu semua, tentara Inggris juga membawa misi titipan untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Tentara Belanda NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris yang tiba di Jakarta dan juga kota-kota besar Indonesia lainnya. Misi ini tercium oleh Pemerintah dan Rakyat Indonesia. Terjadilah sejumlah insiden-insiden kecil antara lascar-laskat dan tentara rakyat Indonesia dengan tentara Inggris di sejumlah tempat.
Melihat hal itu, sejumlah pimpinan politik Indonesia seperti Bung Karno dan Bung Hatta, berusaha melakukan upaya diplomatik untuk menghentikan upaya pengambilalihan kembali Indonesia oleh Belanda. Namun, upaya tersebut sepertinya menemui jalan buntu. Tentara sekutu tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan menganggap Indonesia masih tetap sebagai bekas jajahan Hindia Belanda
Para pemimpin Indonesia, salah satunya Panglima Besar Jenderal Soedirman mengawal ketat kehadiran tentara Sekutu di Indonesia
Para Pemimpin Indonesia mengawal ketat kehadiran tentara sekutu di Indonesia
Sebagai negara baru, Presiden Soekarno tentu berpikiran tidak mungkin melawan kekuatan militer sekutu yang dari sisi persenjataan dan skill tempur jauh dari tentara Indonesia. Namun, membiarkan Belanda mencaplok kembali Indonesia tentu saja tidak bias diterima. Di tengah kebimbangan hati itulah, Bung Karno atas saran Panglima Jenderal Soedirman, mengirim utusan khusus secara diam-diam kepada Roisul Akbar Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur. Tujuannya, meminta Kyai Hasyim mengkaji hukumnya berperang membela negara menurut agama Islam. Dalam pemahaman Islam Bung Karno, yang ia tahu bahwa Islam hanya mengajarkan berperang membela agama, bukan membela negara, apalagi negara itu bukan berdasarkan agama Islam.
Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang
Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang
K.H. Hasyim Asy'ari
K.H. Hasyim Asy’ari

Menjawab permintaan Bung Karno tersebut, Kyai Hasyim lantas memanggil K.H. Wahab Hasbullah, dari Pondok Pesantren Tambakberas Jombang untuk diminta mengumpulkan ketua-ketua NU se-Jawa dan Madura membahas masalah ini. Bukan hanya itu, Kyai Hasyim juga mengirimkan utusan kepada kyai-kyai utama (khos) NU untuk dimintai kesediaannya melakukan sholat istikharoh terkait hukumnya melawan penjajah untuk membela negara Indonesia. Salah satunya adalah K.H. Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat.
Bersambung ke Bagian II

0 komentar:

Posting Komentar