Kamis, 14 April 2016

Penolakan NU terhadap Khilafah sudah tepat karena Al-Quran sendiri tak pernah menganjurkan Berkhilafah .

Posted by saudara kita 22.45.00, under | No comments

Kalau pun sistem khilafah kita anut, maka tetaplah ia tidak terlepas dari teori-teori hasil adopsi dari sistem diluar Islam. Dan ini telah dibuktikan sejarah, hampir semua periode khilafah tidak terlepas dari adopsi adopsi dari luar.

Al-Quran tak pernah menerangkan dan menganjurkan sistem kenegaraan yang disebut khilafah. Sistem ini tidak ada dalam Al-Quran. Negara yang disebut dalam Al-Quran ada dua: Negara Thayyibah dan Negara Khabitsah.
Negara Thayyibah adalah negara yang baik dan negara Khobitsah adalah negara yang buruk. Dalam surat Al A’raf ayat 58 disebutkan : “Wal baladut thoyyibu yakhruju nabatahu biidznihi robbihi walladzi khobutsa la yakhruju illa nakida. Kadzalika nushorriful ayati liqoumin yaskurun”. Artinya: “Dan negara yang baik adalah yang muncul banyak buah buahan denga izin tuhannya. Dan negara yang buruk tidak ada yang keluar kecuali kesengsaraan. Demikianlah kami jelaskan tanda tanda bagi hamba yang bersyukur.”

Dan sistem untuk bisa mencapai negara yang Thayyibah, menurut Al-Qur-an, harus dicapai melalui manajemen syukur, sebagaimana dalam surat Saba’ ayat 15 :”Wasykuru lahu baldatun thayyibatun warabbun ghafur”. Dan bersyukurlah kepada Allah, negaramu akan menjadi negara yang baik dan Allah selalu memberikan ampunanan-Nya.

Negara kita Indonesia dilihat dari segi konstitusinya sebetulnya sudah sesuai dengan ayat tersebut diatas, terbukti dengan adanya pembukaan UUD 45 alenia ke 3 disebutkan : “Atas berkat Rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Berdasarkan alenia ini kita tahu bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bersyukur kepada Allah S.W.T.
Demikian juga kalau dilihat dari sila yang pertama dari Pancasila, Ketuhanan yang Mahaesa. Kita faham bahwa negara kita adalah negara yang berdasarkan tauhid, artinya imam kepada Allah dan hari akhir. Jadi sesuai dengan doa Nabi Ibrahim dalam surat Al-Baqarah ayat 126, yang artinya : “Ketika berdoa Ibrahim, ya Allah jadikan negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berilah rizqi berupa buah buahan kepada warganya, yaitu yang beriman kepada Alloh dan hari akhir”.

Demikian juga sila-sila seterusnya didalam Pembukaan UUD 45, kalau kita teliti dan kita kaji semuanya tidak ada yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits. Semuanya sesuai dengan Islam. “Para pendiri negara kita adalah ulama-ulama’ Islam yang jempolan, hebat. Mereka bukan orang yang bodoh. KH Wahid Hasyim, KH Agus Salim, KH Abdul Kahhar Mudzakir dll, bukanlah ulama’ sembarangan. Sudah mereka pertimbangkan masak masak mana yang terbaik buat bangsa kita,” kata KH Imam Ghozali Said.

Mengenai sistim negara khilafah yang di dengung dengungkan oleh kelompok umat Islam garis keras sebetulnya faham tersebut banyak yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits.
Pertama, sistim tersebut tidak pernah ada adalah sistim syukur. Kedua, mereka berusaha menghapus negara kebangsaan. Bahwa Al-Quran mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia terdiri atas bangsa bangsa dan suku suku untuk saling kenal mengenal, menghargai satu sama lain juga menghargai hak haknya sebagai bangsa.(lihat dalam surat Hujurat ayat 13)
Yang ketiga, mereka berusaha menghilangkan sistim demokrasi. Kata mereka sistim demokrasi adalah sistim orang kafir.

Padahal sistim demokrasi muncul dari musyawarah. Dan musyawaroh di perintah dalam Al-Quran dalam surat Syura 38 disebutkan “Wa am ruhum syura bainahum” (Dan menghadapi perkaramu hendaklah kamu bermusyawarah diantara kalian ),
Ingat dalam sejarah, ketika Rasulullah wafat, beliau tidak mewasiatkan penggantinya. Maka berkumpullah para sahabat Muhajirin dan Anshar untuk bermusyawarah mencari pengganti Nabi. Dalam musyawarah tersebut, kaum Muhajirin mengajukan jagonya. Demikian juga kaum Anshar juga mengajukan jagonya. Dan akhirnya dalam musyawarah tersebut terpilihlah sahabat Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah pengganti Rosululloh secara demokratis.

Demikian juga dengan terpilihnya Sayyidina Umar bin Khatab, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mereka diangkat khalifah melalui pilihan yang demokratis.
Apakah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali yang menyetujui adanya pilihan demokratis ini juga kafir? Naudzu billah min dzalik.
Jangan-jangan mereka itu warisan kaum Khawarij yang mengkafirkan sahabat Utsman, Ali, Abu Musa Al Asy’-ari yang akhirnya membunuh sahabat Ali R.a. Mereka adalah kaum yang mudah mengkafirkan orang yang tidak sefaham.

Apakah kita rela kalau nantinya negara republik Indonesia ini hilang, kemudian diganti dengan imperium tirani yang mereka cita citakan dan mereka kuasai dengan berkedok Islam? Naudzu billah min dzalik.
Kenapa pemerintahan Indonesia dianggap sah?

Pertama, pemilihan secara langsung yang dilakukan di indonesia itu sama persis dengan pengangkatan Sayyidina Ali karramalahu wajhah untuk menduduki jabatan khilafah. Ini adalah pandangan ibnu katsir dalam kitab bidayah wan nihayah.
Kedua, presiden terpilih di Indonesia dilantik oleh MPR yang dapat disepadankan dengan ahlulhalli wal aqdi. Ketiga, sudah terpenuhinya maqosid syariah (tujuan syariah) pernyataan ini telah digambarkan oleh Imam Ghozali dalam kitab Iqtishod fil i’tiqod, menyatakan “dengan demikian tidak bisa dipungkiri, kewajiban mengangkat seorang pemimpin karena mempunyai manfaat dan menjauhkan mudhorot di dunia ini”.

Secara kasat mata jika konversi sistem itu dilakukan maka akan menimbulkan mudharat yang lebih besar. Seperti timbulnya chaos dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan keamanan. Lantaran, timbulnya kevakuman pemerintah atau sebagian golongan yang tidak mendapatkan dukungan dari rakyat secara luas, dan ini dimungkinkan akan terjadi perang saudara, bahkan bisa menimbulkan pertumpahan darah.

Terlebih lagi mendirikan khilafah itu terbantahkan oleh dalil-dalil berikut ini.
Pertama, idak memilki akar dalil syar’i yang qot’i. Karena itu sangat pantaslah dan menjadi tugas bersama untuk membangun suatu bangsa apapun bentuk sistemnya.

Kedua, persoalan pemerintah (imamah) dalam pandangan ahlussunnah wal jamaah bukan bagian dari masalah aqidah, melainkan termasuk persoalan siyasah dan muamalah. Karena itu bolehlah untuk berbeda pandangan dalam memilih sistem. Asal maqosid syariah sudah terpenuhi

Ketiga, secara geografis negara kita mempunyai banyak pulau, mengubah menjadi sistem khilafah itu akan menimbulkan kecemburuan agama lain untuk ikut juga merdeka (dalam artian menentukan sistem dalam mengatur hidup kelompok agama mereka), dan dampak ini akan terasa pada daerah yang Islamnya sangat minoritas.

Keempat, masyarakat masih belum siap untuk melaksanakan hukum Islam secara kafah, terutama permasalahan pidana. Secara otomatis masyarakat yang sama sekali belum siap akan secara berangsur angsur akan meninggalkan agama Islam.
Kelima, jika memang telah disepakati ide formalisasi syariah, maka timbul pertanyaan teori syariah manakah yang akan diterapkan?..

“Jujur saja, walaupun sistem khilafah yang kita anut, maka tetaplah ia tidak terlepas dari teori teori hasil adopsi dari sistem diluar Islam. Dan ini telah dibuktikan sejarah, hampir semua periode khilafah tidak terlepas dari adopsi adopsi dari luar.”

Sumber : Duta Masyarkat




Rabu, 13 April 2016

Berprasangka Buruk kepada Ulama..... Memang Siapa Kita?

Posted by saudara kita 12.41.00, under | No comments


Berprasangka Buruk kepada Ulama. Memang Siapa Kita?




Beberapa hari lalu, seorang teman yang saya kenal pula di dunia nyata—demi membedakan istilah teman dunia maya—mengunggah sebuah artikel di akun facebooknya. Artikel yang ia bagikan itu mengulas tentang Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang memberikan pembelaan kepada kaum Syiah. Tentu saja kita tahu bahwa bahasa pembelaan ala Cak Nun bukanlah bahasa yang sederhana untuk dipahami. 



Jika kita terbiasa membaca tulisan Cak Nun, atau menghadiri setiap pengajian beliau, kita akan paham bahwa ada banyak lipatan makna di balik setiap kata dan ucapan. Pernyataan beliau bahkan tidak cukup dianalisis lewat ilmu-ilmu pragmatik yang berbicara sebatas relasi teks-konteks, namun harus parsial dengan berbagai cabang ilmu dan fenomena. 



Teman saya tadi tidak hanya membagikan artikel, namun juga menambahkan sebuah keterangan sebagai penegasan atas posisinya, yakni: “Beginilah jika budayawan ikut-ikutan bicara soal agama. Itulah mengapa saya lebih setuju Cak Nun mengurusi budaya saja.” 



Ada dua hal yang saya tangkap. Pertama, teman saya berpendapat bahwa sebaiknya Cak Nun yang ia posisikan sebagai budayawan tidak usah turut mengurus persoalan-persoalan agama. Namun, teman saya sepertinya tidak sadar, bahwa ia juga hanya seorang guru bahasa Indonesia, tetapi sekaligus mengurus dua persoalan; agama dan kritik terhadap budayawan. Jika memakai logikanya, bukankah seharusnya ia mengajar saja, tak usahlah mengajukan kritik, apalagi kepada tokoh sekaliber Cak Nun.

Kedua, makna ‘budayawan yang ia pahami sudah pasti sangat sempit dan keliru. Jika definisi agama adalah sebatas yang terdapat dalam pikiran atau batas pengetahuan teman saya, terminologi budaya dalam konteks ini justru dapat melampaui agama, sebab budaya berkaitan dengan segala hal yang berkaitan dengan tata laku manusia. Pelabelan budayawan pada Cak Nun, artinya, gelar tersebut lebih mutakhir dibanding para agamawan lugu yang memposisikan ayat al Qur’an, hadist dan fikih, namun membela sudut pandangnya saja.



Kali lain, di sebuah saluran televisi kabel, saya menyimak sebuah pengajian yang anehnya tidak sedang mengaji kitab tertentu secara mendalam, namun lebih mirip agenda bergosip. Demikian transkripsinya:



“Ada banyak orang ngaku ulama di luar sana senang jika tangannya dijadikan rebutan oleh banyak orang kemudian dicium sambil menunduk-nunduk oleh santrinya. Ada juga orang-orang yang memperebutkan minumannya, eh mereka malah senang. Ini ulama gila hormat…”



Saya pernah mengaji di pesantren salaf tradisional. Saya tentu saja akrab dengan situasi yang diprasangkakan oleh penceramah televisi itu. Saya tahu betul, guru-guru saya bukanlah orang yang gila hormat. Para guru itu adalah orang yang sangat baik kualitas ibadahnya kepada Allah SWT, mencintai Rasulullah SAW dan sangat tawadhu serta khidmat terhadap ilmu. Mereka mengajar mengaji sejak selepas subuh hingga larut malam. 



Waktu yang tersisa tidak dihabiskan dalam tidur melainkan berdoa kepada Allah untuk kebaikan para santrinya. Santri-santrinya, tentu saja tidak hanya anak-anak muda yang mudah untuk menerima pengetahuan, namun juga para orang tua usia lanjut yang sulit memahami ilmu-ilmu baru. Santri, juga banyak yang merupakan kaum marjinal, yakni mereka yang miskin sehingga memiliki berbagai batasan untuk memperoleh akses pada berbagai hal. Yang paling penting untuk dicatat, para guru itu tidak mematok bayaran untuk segala aktivitas yang meminta seluruh kenyamanan dan waktunya.

Berbicara dengan kaum marjinal seringkali tidak mudah. Para antropolog juga praktisi budaya mengakui hal itu. Namun, sekali seseorang mampu meraih hati masyarakat, mereka akan mendapat sebuah privilege kepercayaan yang begitu besar. Barangkali, hal ini terkait dengan budaya kolonialisme di masa lalu, bahwa narasi kelas bawah cenderung dikondisikan untuk begitu tunduk dengan kaum elit penguasa serta kaum priyayi. Persoalan inilah yang tak dipahami penceramah yang mengedepankan prasangka.



Selain itu, setiap komunal juga memiliki simbol masing-masing dalam mengungkapkan segala sesuatu, termasuk tindakan. Pesantren, yang sangat menghormati otoritas keilmuan misalnya, memiliki tradisi sendiri bagaimana menaruh adab pada guru. Berebut tangan seorang guru untuk dijabat dan dicium, bagi para santri bukanlah wujud sebuah ketakutan atau penghormatan yang berlebihan, namun rasa cinta yang sangat pada seorang guru dengan kepribadian yang sejuk dan dirindukan.



Ada sebuah cerita tentang Abu Ayyub Al Anshory, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Suatu hari ia merasa sangat rindu dengan Kanjeng Nabi Muhammad. Ia pun datang ke makam beliau SAW dan menempelkan pipinya di nisan makam Rasul. Ketika banyak orang mempertanyakan tindakannya tersebut, Abu Ayyub berkata, “Aku menempelkan pipiku pada nisan Rasulullah itu bukan berarti aku menyembah Kanjeng Nabi, tapi karena aku sangat rindu padanya. Aku rindu sekali sebab aku mencintainya…”



Sementara ada sebuah kisah lain tentang seseorang yang sangat rajin mengkritik tindakan-tindakan yang dianggap bid’ah, seperti apa yang dilakukan oleh Abu Ayyub. Seorang tersebut adalah Ibnu Taimiyyah. Anehnya, ketika Ibnu Taimiyyah wafat, para pengikut Ibnu Taimiyyah pun justru berebut air bekas Ibnu Taimiyyah. Mungkin juga sebab saking cintanya. Bukankah rasa cinta kadangkala berada di luar batas-batas kesadaran dan menyebabkan perilaku aneh-aneh? Wajar saja, namanya juga hati manusia, bukan?



Cinta, adalah sesuatu yang melampaui hal-hal remeh serupa materi. Di perkotaan yang sarat dengan laku kapitalisme, kita akan sulit menemukan cinta. Pola-pola aktivitas kapitalisme menuntut laku yang serba cepat dan instan, yang mereka jual dengan jargon profesionalisme. 



Itulah mengapa, pengajian-pengajian di perkotaan juga berbiaya mahal. Agama adalah komoditas, lalu segala unsur yang melingkupinya menjadi obyek komodifikasi. Sedang cinta, berlawanan dengan hal semacam itu.Cinta sejati memerlukan waktu untuk tumbuh. Ia bergerak dengan lembut dalam kesunyian. 



Budaya keilmuan yang benar memerlukan nuansa khas semacam itu. Para guru, ulama atau kiai, memiliki cinta dan dicintai sebab bersabar memelihara tradisi. Otoritas, pada akhirnya adalah wajah lain dari keteladanan, yang tidak mudah dipahami oleh kaum-kaum yang memperlakukan agama sebatas perdagangan yang memerlukan transaksi. Dalam perspektif cinta, agama bahkan telah lepas dari hitung-mengitung imbalan pahala dan dosa. Ia hanya mengerti untuk terus berjalan mencari kemutlakan, yakni Dia, Zat yang asal. 





Oleh: Kalis Mardiasih, Penulis dan Penerjemah lepas. Dapat disapa di @mardiasih.
MUSLIMMODERAT

Terungkapnya Kewalian Sang Ulama Islam Nusantara, KHR. As'ad Syamsul Arifin Situbondo

Posted by saudara kita 12.36.00, under | No comments

Terungkapnya Kewalian Sang Ulama Islam Nusantara, KHR. As'ad Syamsul Arifin Situbondo NetOopsblog protected imageNetOopsblog protected imageNetOopsblog protected image
MusliModerat.Com - 
Tidak ada yang menyangka, ternyata Mursyid 13 thariqah dan ulama besar NU ini adalah seorang Wali Quthub (pimpinannya para wali). Berikut adalah kesaksian dari Kyai Mujib, putera KH. Ridwan Abdullah pencipta lambang NU.

Kyai As'ad laksana samudera tak bertepi. Beliau semakin didekati kian bertambah tidak kelihatan. Saya sangat berpengalaman. Bahkan saya pernah mencium seluruh tubuhnya, kecuali yang memang tidak boleh.

Setelah saya pijat selama hampir 3 jam, beliau tertidur sangat pulas. Saya ciumi sekujur tubuhnya, dari ujung kepala sampai telapak kaki. Saya tidak mendapatkan bau apa-apa. Sampai hati saya berkata, "beliau ini ada atau tidak ada? Apakah ini orang yang dikatakan sudah berada di maqam fana?"

Hampir 20 tahun saya hidup bersama beliau. Tambah dekat dan tambah lama, semakin tidak kelihatan, sulit ditebak. Saya baru diberi tahu dan mengerti, baru yakin siapa beliau ini, setelah saya sampai di Madinah tahun 1987 saat ditunjuk sebagai petugas haji oleh pemerintah. Sebelum berangkat haji, saya pun minta izin ke beliau.

"Pak Mujib, pergi haji Sampean ini sunnah tapi sampai (datang) ke Haramain tahun ini wajib (fardhu kifayah). Kalau Sampean tahun ini tidak datang ke tanah Haram, dosa Sampean besar," kata Kyai As'ad.

"Kenapa?" tanyaku.

"Jawabnya nanti di sana, bukan di sini," kata Kyai As'ad. "Namun Sampean jangan berkecil hati. Sampean saya pinjami ijazah. Setelah pulang, ijazah tersebut harus dikembalikan. Tidak boleh dipakai terus."

"Kalau saya sudah hafal bagaimana, Kyai?" tanyaku.

"Ya terserah, kalau Sampean jadi bajingan."

Sampai larut malam, saya tidak diperbolehkan pulang. Saya disuruh pulang besok pagi. Tapi ijazah itu, tidak 'dipinjamkan' sampai saya tertidur. Ternyata, dalam tidurku itu saya ditalqin ijazah. Lalu saya ditanya apakah masih punya wudhu. Saya jawab, masih punya. Baru kemudian saya ditalqin.

Menjelang Shubuh saya pun terbangun. Ternyata di bawah bantal ada secarik kertas yang ditulis oleh Kyai As'ad. Bunyinya persis seperti ijazah dalam tidur tadi. Mungkin beliau takut saya lupa.

Setelah saya pulang dari haji, beliau sudah ada di rumah saya ingin mengambil ijazah itu. "Saya tidak minta oleh-olehnya, Pak Mujib. Hanya saja ijazah itu harus dilembalikan," kata Kyai As'ad. Mungkin, ijazah itu takut disalahgunakan.

Alhamdulillah saya berhasil menunaikan ibadah haji. Ada beberapa peristiwa yang saya alami, yang hanya bisa saya ceritakan kepada Kyai As'ad. Semuanya saya ceritakan. Lalu saya bertanya: "Ada satu Kyai, yang menyangkut Panjenengan."

"Lho, sampean ke sana mau ngurus saya juga ya?" Tanya Kyai As'ad dengan nada marah.

Saya pun dimarahi oleh beliau. "Sampean ke sana dengan saya pinjami ijazah segala, jadi ngobyek saya juga ya? Kurang ajar Sampean ini!" katanya agak marah.

"Ya tidak begitu, Kyai. Masa saya sudah ikut Panjenengan hampir 20 tahun, kok tidak tahu siapa sebenarnya Panjenengan?" jawabku.

"Lha iya, Sampean ngobyek, ingin tahu saya. Apa hasilnya?"

"Saya disuruh membacakan ayat di hadapan Panjenengan!"

"Ayat apa?" Tanya Kyai As'ad.

"Ayat al-Quran. Dengan syarat, kalau Panjenengan mau. Kalau tidak mau ya tidak usah!" jawabku.

"Mana ada kyai yang tidak mau dibacakan al-Quran? Gila Sampean ini!" kata Kyai As'ad.

"Lha wong 'Bos' di sana bilang begitu, Kyai," kata saya melucu.

Ceritanya, sewaktu di tanah Haramain saya bertemu 'Bos'. Kata Bos: "Kalau Kyai As'ad tidak mengaku siapa sebenarnya beliau, bacakan ayat ini. Dengan catatan beliau harus mau."

"Kalau tidak mau, ya saya tidak akan pernah tahu siapa Kyai As'ad," jawabku. Karena itu saya pun mendesak 'Bos' itu.

Lalu 'Bos' berkata: "Ya... tidak maunya itu ngakunya!"

Saya lalu membacakan ayat yang dimaksud di hadapan Kyai As'ad:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا 

"Maka bagaimana jika Kami mendatangkan saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka?" (QS. an-Nisa ayat 41).

Belum selesai saya membaca ayat tersebut, beliau menangis sejadi-jadinya, menjerit sampai bercucuran air mata. Inilah pengakuan yang tidak bisa dihindari. Saya tembak di tempat dengan resep 'Bos' tadi. Ya, jangan tanya siapa 'Bos' tersebut.

Saya tunggu. Beliau nangis hampir satu jam, itu pun masih terisak-isak seperti anak kecil. Lalu saya diajak salaman. Ketika saya mau mencium tangan beliau, tidak diperbolehkan. "Kali ini Sampean tidak saya izinkan mencium tangan saya," kata Kyai As'ad masih dalam keadaan terisak.

Saya pucat. "Wah, haji saya kali ini mardud (tertolak)," begitu dalam benak saya. Mengapa? Sebab saya telah membuka rahasia besar, yang di dunia ini orangnya hanya satu. Wali Quthub ini, di dunia hanya satu. Itu rahasianya saya buka, walaupun saya disuruh 'Bos'.

"Pak Mujib, apa Sampean tidak keberatan belas kasihan sama saya. Saya minta belas kasihan Sampean. Saya minta belas kasihan Sampean agar jangan sampai ngomong kepada orang lain selama saya masih hidup, siapa diri saya ini!" Pinta Kyai As'ad kepadaku. (Disadur dari buku berjudul "Kharisma Kyai As'ad di Mata Umat").(padhang-mbulan.org)

Inilah 5 Kiai Legendaris NU yang dikenal Memiliki Kesaktian Luar Biasa

Posted by saudara kita 12.32.00, under | No comments

Inilah 5 Kiai Legendaris NU yang dikenal Memiliki Kesaktian Luar Biasa


Wartaislami ~ Ilmu agama dan ilmu kanuragan atau kesaktian ibarat dua sisi mata uang bagi warga Nahdliyin--sebutan bagi warga Nahdlatul Ulama (NU). Keduanya tidak bisa dipisahkan. Sebab, seorang ulama, kiai, atau penganjur kebenaran, harus dibekali kemampuan lebih untuk menjaga diri ketika berdakwah.

Maka wajar kemudian kisah-kisah kiai legendaris NU selalu lekat dengan ilmu kanuragan. Banyak kiai NU yang selain dikenal memiliki ilmu agama mumpuni, juga dikenal sakti karena mengajarkan beladiri. Sebut saja nama almarhum Kiai Maksum Djahuri atau Gus Maksum, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Dari tangan Gus Maksum juga lah kemudian berdiri perguruan pencak silat NU, Pagar Nusa. Selain itu, kanuragan juga dibutuhkan semasa pergerakan kemerdekaan RI untuk melawan penjajah. Kisah kesaktian kiai dan santri pada masa perang kemerdekaan di Surabaya adalah contohnya.

Resolusi jihad NU menjadi pemicu meletusnya perang 10 November di Surabaya. Para pejuang kemerdekaan yang di dalamnya ada barisan pasukan Hizbullah--barisan para santri pondok pesantren yang dilatih perang untuk melawan penjajahan--menjadi kisah epik bagi para santri. Contohnya adalah kisah Kiai Amin dari Ciwaringin, Cirebon, Jawa Tengah.
Berikut ini kisah-kisah kiai legendaris NU yang dikenal memiliki kesaktian seperti dirangkum dari berbagai sumber:

Gus Maksum, kiai sekaligus pendekar


Bagi warga Nahdliyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama/NU), nama Kiai Maksum Djauhari atau Gus Maksum, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, selain dikenal sebagai kiai juga dikenal sebagai pendekar. Sebab selain pandai mengaji kitab kuning, kiai nyentrik tersebut juga ahli dalam seni beladiri atau silat.

Dikutip dari Buku Antologi Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah NU, Karya Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan, semasa kecil Gus Maksum tidak hanya diisi dengan rutinitas mengaji. Namun dia juga gemar mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa untuk berguru ilmu silat. Dari hasil pengembaraannya itulah beliau di masa dewasanya tampil menjadi pendekar legendaris di kalangan NU. 

Penampilan Kiai NU ini terbilang nyentrik; berambut gondrong, jenggot dan kumis panjang, bersarung setinggi lutut, memakai bakiak, berpakaian seadanya dan tidak makan nasi. Di kalangan dunia persilatan, beliau dikenal sangat mahir dan menguasai berbagai aliran silat dengan sempurna. 

Konon saking saktinya sampai rambut beliau tidak mempan dipotong, mulutnya bisa menyemburkan api, mahir menaklukkan jin, mampu melemparkan sapi seperti melemparkan sandal, tidak mempan disantet, tidak mempan senjata tajam, dan lain sebagainya.

Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 12 Januari 2003. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga, sebelah barat masjid lama Ponpes Lirboyo. Kiai yang lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada 8 Agustus 1944 itu juga merupakan pendiri perguruan silat NU Pagar Nusa yang kini semakin banyak anggotanya di seluruh Indonesia.

Kiai Abbas Buntet, Cirebon



Tokoh sentral NU lainnya yang dikenal sakti adalah Kiai Abbas Buntet. Pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, itu selain mengajarkan kitab kuning juga mengobarkan semangat perjuangan mengusir penjajah Belanda.

Kiai Abbas adalah putra sulung Kiai Abdul Jamil yang dilahirkan pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 25 Oktober 1800 M di desa Pekalangan, Cirebon. Sedangkan Kiai Abdul Jamil adalah putra dari Kiai Mutaad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon. 

Pada dasarnya Kiai Abbas adalah keturunan ulama. Karena itu pertama ia belajar pada ayahnya sendiri, Kiai Abdul Jamil. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama, baru pindah ke Pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon di bawah pimpinan Kiai Nasuha. Setelah itu dia pindah lagi ke sebuah pesantren salaf di daerah Jatisari di bawah pimpinan Kiai Hasan. 

Setelah itu keluar daerah, yakni ke sebuah pesantren di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah. Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, selanjutnya ia pindah ke pesantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Tebuireng, Jombang, di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asyari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU. 

Dia juga belajar ke Mekkah dan kembali bersama-sama dengan Kiai Bakir Yogyakarta, Kiai Abdillah Surabaya dan Kiai Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah). 

Bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekah, serta upayanya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet.

Ketika mengaji Kiai Abbas hanya beralaskan tikar. Namun demikian santri yang datang berjubel di langgarnya. Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

Dalam tradisi pesantren, selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning juga dikenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela diri. Keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah keharusan.

Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, maka pengajaran ilmu kanuragan dirasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan. Kiai Abbas mulai merintis perlawanan dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian pada masyarakat.

Dengan mengajarkan ilmu kanuragan itu maka pesantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pesantren Buntet menjadi basis perjuanagan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah.
Kiai Amin, Ciwaringin




Kiai NU lain yang juga dikenal memiliki karomah adalah Kiai Amin bin Irsyad atau lebih akrab dikenal sebagai Kiai Amin Sepuh. Lahir pada hari Jumat, 24 Dzulhijjah 1300 H, bertepatan dengan tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Konon Kiai Amin termasuk ahlul bait, dari silsilah Syech Syarif Hidayatullah.

Seperti tradisi kiai-kiai NU lainnya, semasa kecil dia juga belajar ilmu agama dari satu pondok pesantren ke pesantren lainnya. Selain belajar ilmu agama, dia juga belajar ilmu kanuragan dari bapaknya sendiri, Kiai Irsyad yang wafat di Mekkah. Kemudian, setelah dirasa cukup menguasai dasar-dasar ilmu agama dan ilmu kanuragan dari sang ayah, beliau dipindahkan ke pesantren Sukasari, Plered, Cirebon di bawah asuhan Kiai Nasuha. 

Setelah itu dia pindah ke pesantren di Jatisari di bawah bimbingan Kiai Hasan. Kemudian belajar ke Pesantren Kaliwungu Kendal, ke Pesantren Mangkang Semarang, ke Pesantren Bangkalan Madura di bawah asuhan Kiai Cholil. Di Bangkalan dia di bawah bimbingan Kiai Hasyim Asyari, yang mana pada waktu itu Kiai Hasyim masih tahassus (menyimak dan menggali pemikiran) kepada Kiai Cholil. 

Ketika Kiai Hasyim pulang dan mengajar ke Tebuireng, Kiai Amin pun ikut bertahassus ke sana. Selanjutnya Kiai Amin belajar ke Mekkah. Berikutnya Kiai Amin menimba ilmu kepada Kiai Ismail bin Nawawi di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Setelah menyelesaikan tahassus, kemudian dinikahkan dengan keponakan Kiai Ismail.

Sehingga sepeninggal Kiai Ismail, Kiai Amin lalu meneruskan mengajar di pesantren. Pada masa penjajahan, pesantren selalu menjadi basis perlawanan. Para santri menyebarkan informasi dari satu tempat ke tempat lain, dan tak jarang pula mereka menjadi garda depan melawan penjajah.

Selain dikenal sebagai ulama, Kiai Amin juga dikenal sebagai pendekar yang menguasai ilmu bela diri dan kanuragan. Ada kisah di kalagan warga Ciwaringin, dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Kiai Amin dan ulama lain di Cirebon ikut mengirim laskar ke Surabaya. Bahkan Kiai Amin sendiri ikut berangkat serta turut mengusahakan pendanaan untuk biaya keberangkatan. 

Kiai Amin ini bagi warga Nahdliyin sangat legendaris. Konon dalam perang di Surabaya itu dia tidak mempan senjata maupun peluru saat bertempur. Bahkan, dia juga dikabarkan tidak mati meskipun dilempari bom sebanyak 8 kali.

Karomah Kiai Hamid, Pasuruan




Kiai Hamid Abdullah Basayban, Pasuruan, Jawa Timur, juga dikenal sebagai kiai NU yang memiliki karomah. Suatu ketika di masa Pemerintahan Orde Baru, Kiai Hamid diajak masuk ke partai pemerintah. Namun dia menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat itu. 

Namun ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kiai Hamid tetap menerima dan menandatanganinya. Anehnya pulpen yang disodorkan untuk tandatangan tersebut tidak bisa keluar tinta alias macet. Lalu digantilah dengan pulpen lain, tapi tetap tak mau keluar tinta dan seterusnya.

Karomah Gus Dur




Terakhir adalah Kiai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Semua warga NU pasti mengenal figur satu ini karena pernah menjabat sebagai presiden. Namun demikian, selain dikenal sebagai kiai yang mengajar kitab kuning, Gus Dur juga dikenal sebagai politisi, budayawan, dan seniman. Bahkan Gus Dur juga dikait-kaitkan dengan kesaktian.
 
Dalam berbagai cerita, Gus Dur disebut-sebut memiliki karomah, salah satunya diceritakan Khoirul, sopir pribadi Gus Dur. Dikutip dari www.nu.or.id, kisah kesaktian Gus Dur ini dialami waktu di jalan raya.
 
Suatu ketika, ia sedang berada di Majenang Cilacap mengantar Gus Dur dan beberapa orang anggota rombongan dalam dua mobil. Saat itu sudah jam 12 siang dan Gus Dur mengajak pulang karena di rumah ada tamu yang harus ditemuinya pada jam 13.00.
 
Ia pun segera putar arah dan mobil rombongan di belakang mengikutinya di belakang. Karena sudah ada janji, ia ngebut, tetapi tak yakin bisa segera sampai di Ciganjur, tempat tinggal Gus Dur tepat waktu. Ia berpikiran, paling-paling bisa sampai di Jakarta pukul 3 atau 4 sore mengingat jaraknya sangat jauh. Rute yang harus dilalui masih sangat jauh karena harus melewati kawasan Puncak yang jalannya kecil, berliku-liku dan naik turun. Apalagi saat itu belum ada Tol Cipularang.
 
Ia pun tetap menggeber mobilnya secepat yang bisa ia lakukan. Mobil rombongan satunya di belakang tidak kelihatan, tampaknya sudah jauh ketinggalan. Singkat kata, sampailah mobil itu di rumah Gus Dur dan ia merasa lega selamat sampai di rumah. Ia menengok jam tangannya. Angka yang masih diingatnya sampai sekarang, "pukul 13.12 menit". Jakarta Cilacap hanya ditempuh dalam waktu 1 jam lebih sedikit.
 
Dan Gus Dur tidak terlambat menerima tamunya yang juga baru saja sampai. Rombongan mobil di belakangnya baru sampai di Ciganjur pukul 16.30, beda empat jam lebih dari perjalanannya.

PBNU Siapkan Duta Dai ke Eropa

Posted by saudara kita 12.24.00, under | No comments

PBNU Siapkan Duta Dai ke Eropa
Bogor, NU Online
Sebanyak 20 dai muda mengikuti seleksi "Dai Ambassador" yang diselenggarakan Lembaga Dakwah NU. Kegiatan yang dihelat di Wisma Flora, Bogor, Jawa Barat selama 3 hari (12-14/4) ini bertujuan untuk mendapatkan kandidat dai yang akan dikirim berdakwah ke luar negeri.

Menurut Wakil Sekretaris Divisi Diklat dan Pengkaderan LDNU, KH Wahfiudin Sakam, peserta yang mendaftar untuk ikut program ini sebanyak 64 dai. "Setelah seleksi administrasi, terpilih 20 kandidat terbaik untuk mengikuti seleksi tahap selanjutnya  yang saat ini sedang berlangsung. Mereka dari berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dll," ungkapnya.

Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat ini menambahkan, jika seleksi dilakukan dalam bentuk pelatihan agar lebih mengenal karakter dan potensi peserta. "Kandidat yang terpilih akan ditempatkan di Eropa dan Hongkong sepanjang bulan ramadhan tahun ini," katanya.

Sementara itu Sekjen LDNU, KH Nurul Yaqin Ishaq dalam sambutannya mengungkapkan jika program Dai Ambassador sangat strategis dalam pengembangan dakwah ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah). Menurutnya, ada dua manfaat besar yang bisa diperoleh dari program ini. Pertama, kader-kader dakwah semakin termotivasi untuk mengembangkan kompetensi dan kapasitas diri. Misalnya dalam penguasaan kutub al-turats (kitab kuning), bahasa asing serta wawasan global.

"Yang kedua, program ini bisa menjadi momentum untuk menyebarkan prinsip-prinsip dakwah Nahdlatul Ulama. Almusawa (kesetaràan), al-ikho' (persaudaraan), al'adalah (keadilan), al-tasamuh (toleran), al-tawasuth (moderat, middle way position) adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi Nahdlatul Ulama," tutupnya. (Idn/Zunus)

PBNU Siapkan Duta Dai ke Eropa
Bogor, NU Online
Sebanyak 20 dai muda mengikuti seleksi "Dai Ambassador" yang diselenggarakan Lembaga Dakwah NU. Kegiatan yang dihelat di Wisma Flora, Bogor, Jawa Barat selama 3 hari (12-14/4) ini bertujuan untuk mendapatkan kandidat dai yang akan dikirim berdakwah ke luar negeri.

Menurut Wakil Sekretaris Divisi Diklat dan Pengkaderan LDNU, KH Wahfiudin Sakam, peserta yang mendaftar untuk ikut program ini sebanyak 64 dai. "Setelah seleksi administrasi, terpilih 20 kandidat terbaik untuk mengikuti seleksi tahap selanjutnya  yang saat ini sedang berlangsung. Mereka dari berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dll," ungkapnya.

Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat ini menambahkan, jika seleksi dilakukan dalam bentuk pelatihan agar lebih mengenal karakter dan potensi peserta. "Kandidat yang terpilih akan ditempatkan di Eropa dan Hongkong sepanjang bulan ramadhan tahun ini," katanya.

Sementara itu Sekjen LDNU, KH Nurul Yaqin Ishaq dalam sambutannya mengungkapkan jika program Dai Ambassador sangat strategis dalam pengembangan dakwah ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah). Menurutnya, ada dua manfaat besar yang bisa diperoleh dari program ini. Pertama, kader-kader dakwah semakin termotivasi untuk mengembangkan kompetensi dan kapasitas diri. Misalnya dalam penguasaan kutub al-turats (kitab kuning), bahasa asing serta wawasan global.

"Yang kedua, program ini bisa menjadi momentum untuk menyebarkan prinsip-prinsip dakwah Nahdlatul Ulama. Almusawa (kesetaràan), al-ikho' (persaudaraan), al'adalah (keadilan), al-tasamuh (toleran), al-tawasuth (moderat, middle way position) adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi Nahdlatul Ulama," tutupnya. (Idn/Zunus)