BAGIAN II
INSIDEN BENDERA DI HOTEL YAMATO, 18 OKTOBER 1945
Di tengah Kyai Wahab
mengumpulkan para ketua dan kyai NU se-Jawa dan Madura, situasi politik
di Jawa Timur, khususnya di Surabaya dari hari ke hari terus memanas.
Maklumat Pemerintah RI tanggal 31 Agustus 1945 yang menyerukan rakyat
Indonesia mengibarkan bendera merah putih di seluruh pelosok negeri
telah menimbulkan ketegangan politik dengan tentara Jepang dan Belanda
di sejumlah titik.
Peristiwa bersejarah yang dikenal salah
satunya adalah insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato
(sekarang hotel majapahit), di Jl. Tunjungan Surabaya pada tanggal 19
Oktober 1945. Peristiwa bermula ketika sekelompok orang Belanda di bawah
pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari pada tanggal 18 Oktober
1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda
(Merah-Putih-Biru) di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi
sebelah utara. Pengibaran bendera Belanda tersebut tanpa persetujuan
Pemerintah RI Daerah Surabaya.
Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah
karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia,
hendak mengembalikan kekuasaan kembali di Indonesia, dan melecehkan
gerakan pengibaran bendera Merah-Putih yang sedang berlangsung di
Surabaya.Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke Hotel Yamato dikawal Sidik dan Haryono.
Para pemuda Surabaya terlibat aksi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato
Sebagai perwakilan RI, Soedirman berunding dengan Mr. Ploegman dan
kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari
gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini, Ploegman menolak untuk
menurutkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan
Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan
pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman
tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda
yang berjaga-jaga setelah mendengar letusan pistol Ploegman.Soedirman dan Haryono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Pada saat bersamaan, sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Haryono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dan pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Peristiwa ini menyebar dengan sangat cepat dari mulut ke mulut ke seluruh pelosok Surabaya dan Jawa Timur. Situasi semakin memanas dan tak terkendali. Terjadi aksi penyerangan secara sporadis laskar rakyat Indonesia ke kamp-kanp tentara Jepang dan juga Belanda dengan maksud untuk merebut persenjataan.
Massa berkumpul, bersorak sorai, meneriakkan pekik merdeka dan juga takbir, memanjat menara Hotel Yamato
0 komentar:
Posting Komentar