BAGIAN XI
10 NOVEMBER 1945:
JIHAD FI SABILILLAH BERKOBAR DI SURABAYA
Pagi hari, Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya memutar pidato
Bung Tomo yang dengan suara meledak-ledak mengajak rakyat Surabaya turun
ke jalan mengangkat senjata melawan Sekutu. Pekik takbir dalam pidato
Bung Karno menunjukkan bahwa pidato itu tidak lain adalah seruan
berjihad seperti yang diserukan oleh NU sebelumnya. Siaran Bung Tomo,
diputar terus menerus sepanjang pagi sampai siang hari oleh RRI dan
direlay oleh radio-radio komunitas di Surabaya.
Bung Tomo membakar semangat juang arek-arek
Suroboyo. Bung Tomo memiliki kedekatan khusus dengan Kyai Hasyim
Asy’ari, karena bertetangga dekat di Surabaya.
Siang hari, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala
besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung
pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000
infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Seperti
janjinya, Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari
laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian
berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.
Perlawanan sengit Laskar Sabilillah
Perlawanan sengit Laskar Hizbullah
Inggris Targetkan 3 Hari Tundukkan SurabayaDengan persenjataan yang lengkap, Inggris memasang target Kota Surabaya sudah dapat dikuasai sepenuhnya dalam jangka waktu maksimal 3 hari. Dan tidak ada lagi perlawanan yang berarti dari milisi dan tentara Indonesia. Namun, target itu meleset jauh. Inggris dibuat shock dan terbelalak matanya menyaksikan militansi perlawanan rakyat Surabaya.
Tentara Gurkha Inggris
11 November 1945: Inggris Kehilangan Jenderal LagiBaru memasuki hari kedua pertempuran Surabaya, Inggris kehilangan Jenderal terbaiknya, Eric Carden Robert Mansergh. Sebelum ini, Inggris juga kehilangan Jenderal Mallaby yang tewas 30 Oktober 1945. Artinya, belum dua minggu bertempur melawan arek-arek Surabaya, Inggris sudah kehilangan dua jenderal terbaiknya. Hal inilah yang membuat psikologi pasukan Inggris langsung jatuh. Mereka melihat lautan manusia terus merangsek ke arah mereka tanpa ampun. Ditembak 1, muncul 10, ditembak 10, muncul 100, ditembak 100, muncul 1000 dan begitu seterusnya, seolah tiada habisnya.
Jenderal Eric Carden Robert Mansergh, pengganti Jenderal Mallaby, tewas di hari kedua pertempuran Surabaya
Tentara Pakistan dan Hindia Membelot Membela IndonesiaMilitansi perlawanan sukarelawan Surabaya menggugah hati para tentara Inggris asal Pakistan dan India (Gurkha). Gema takbir yang terus berkumandang dari mulut para pejuang Indonesia selama pertempuran, menyadarkan tentara Gurkha yang notabene beragama Islam bahwa musuh yang dihadapi adalah saudara seiman yang sedang berjihad membela negara dan agamanya. Dilaporkan tidak kurang dari 300 personel Gurkha membelot dan bergabung dengan pejuang Indonesia balik melawan tentara Inggris.
Ziaul Haq, komandan pasukan Gurkha yang memilih
pulang ke negaranya karena tidak mau berhadapan dengan ulama dan santri
yang notebene seiman seperjuangan
Bahkan, komandan mereka, Ziaul Haq
membangkang Inggris tidak mau melanjutkan pertempuran dan memilih
kembali ke Pakistan bersama pasukannya setelah ia tahu yang ia lawan dan
yang ia bunuh adalah ulama-ulama Islam dan para santri. Keputusan ini
membuat Ziaul Haq dicap sebagai pengkhianat Inggris selamanya. Ziaul Haq
terpilih menjadi Presiden Pakistan yang ke-6 tahun 1977 dan meninggal
setelah pesawatnya ditembak orang tak dikenal.
Sebanyak 300 pasukan Gurkha membelot bergabung dengan tentara Indonesia
Pertempuran Surabaya Berlangsung 3 MingguDari target 3 hari, pertempuran besar Surabaya berlangsung selama 3 minggu. Kota Surabaya betul-betul luluh lantak. Inggris memang akhirnya berhasil menguasai Kota Surabaya. Namun, semuanya harus dibayar mahal. Ia kehilangan dua jenderal terbaiknya, kehilangan 2.000 lebih pasukan terlatihnya, dikhianati tentaranya sendiri, kehilangan peralatan perang yang cukup banyak, dan tentu saja terkuras habis logistiknya, tidak sebanding dengan luas wilayah yang ia rebut.
Pertempuran yang melelahkan dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar
Korban di pihak Indonesia tak terhitung lagi. Ada yang memperkirakan
20.000, ada yang mencatat 60.000, semuanya gugur sebagai syuhada seperti
yang dijanjikan oleh Resolusi Jihad NU. Para pejuang kemerdekaan yang
masih tersisa memilih bergeser ke pinggiran Surabaya dengan tetap
memberikan perlawanan sekuatnya. Sebanyak 200.000 penduduk mengungsi
dari Surabaya yang porak poranda.
Diperkirakan 200.000 warga Surabaya kebanyakan perempuan dan anak-anak mengungsi keluar kota Surabaya
Bersambung ke Bagian X
0 komentar:
Posting Komentar