BAGIAN V
25 OKTOBER 1945:
TENTARA SEKUTU MENDARAT DI SURABAYA
Tiga hari usai Resolusi Jihad NU dicetuskan, pasukan Sekutu mendarat di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Tentara Inggris menyusun strategi untuk menguasai Kota Surabaya
Kabar akan mendaratnya pasukan sekutu dengan persenjataan yang
lengkap dengan cepat menyebar di kalangan rakyat Surabaya dan
sekitarnya, karena sebelum itu tiga utusan dari pemerintah pusat datang
menemui Soemarsono (salah satu tokoh kunci peristiwa 10 November). Salah
seorang di antara mereka adalah pejabat Menteri Keamanan Salyo
Hadikusumo (menteri keamanan yang sebenarnya adalah Suprijadi, namun
sejak sebelum diangkatpun tidak ada yang tahu di mana pejuang dari
Blitar itu berada). Ada juga Menteri Negara Sartono. Utusan Jakarta ini
memberitahu bahwa dalam waktu dekat tentara Sekutu akan mendarat di
Surabaya.
Jenderal Mallaby diantarkan pejuang Indonesia keliling ke kamp-kamp tahanan Belanda. Kecurigaan dimulai.
Tujuan pendaratan itu baik: mereka akan mengurus tahanan-tahanan
perang di masa lalu yang masih ada di penjara-penjara Surabaya. Yakni,
ketika terjadi perang antara Jepang dan tentara Sekutu dengan kekalahan
telak di pihak Jepang di seluruh Asia. Urusan ini, menurut ilmu hubungan
internasional, disebut RAPWI (Repatriation of Allied Prisoners of War and Internees).Maka, ketika tentara Sekutu mendarat, para pemuda Surabaya pun membantu. Mereka menyiapkan di mana saja Komisi Pengurusan Tawanan Perang Sekutu itu akan bermarkas. Salah satunya di Gedung Internatio –bangunan dua lantai yang kini berada di bagian barat Jembatan Merah Plaza itu. Di sinilah Brigjen Mallaby, komandan komisi itu, berkantor.
Menurut Soemarsono, kecurigaan mulai muncul setelah tiga hari tentara Sekutu berada di Surabaya, mereka sudah menempatkan pasukan di sudut-sudut Surabaya yang strategis. Berdasarkan kecurigaan itulah pemuda Surabaya membuat keputusan untuk mendahului dari pada didahului.
Tentara Inggris terus masuk ke Surabaya dengan aman
Bersambung ke Bagian VI
0 komentar:
Posting Komentar