AGIAN VIII
1-9 NOVEMBER 1945:
KONSOLIDASI DAN PERSIAPAN PERANG
Bung Tomo Konsultasi Ke Kyai HasyimUltimatum tentara sekutu dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan/milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Bung Tomo
Seorang pemuda Surabaya bernama Sutomo (Bung Tomo) yang memiliki anak
buah cukup banyak dan loyal dilaporkan menghadap ke Kyai Hasyim. Bung
Tomo memang dikenal dekat dengan Kyai Hasyim, karena rumah orang tua
Bung Tomo bersebelahan dengan rumah Kyai Hasyim di Surabaya. Seperti
diketahui sejak kasus penahanan Kyai Hasyim oleh tentara Jepang karena
menolak hormat kepada bendera Jepang, Kyai Hasyim lebih memilih tinggal
di Surabaya dan sangat jarang kembali ke Jombang.
Demi prinsip, K.H. Hasyim Asy’ari menolak menghormat bendera Belanda dan Jepang
Sejumlah sumber menyebutkan Bung Tomo meminta ijin kepada Kyai Hasyim
untuk menyiarkan Resolusi Jihad NU melalu radio guna memompa semangat
perlawanan rakyat menghadapi kemungkinan terburuk deadline tanggal 10
November.Kyai Wahab Mengumpulkan Milisi
Menyikapi ultimatum dari tentara sekutu, Kyai Wahab Hasbullah mengundang pimpinan laskar atau milisi yang berada dalam binaan NU untuk dimintai pertimbangan terkait langkah-langkah apa yang harus diambil. Laskar yang dipanggil tersebut antara lain, Laskar Hizbullah pimpinan K.H. Zainul Arifin, Laskar Sabilillah pimpinan K.H. Masykur dan Laskar Mujahidin yang dipimpin sendiri oleh Kyai Wahab serta sejumlah komandan Batalion PETA. Seperti diketahui, sebanyak 20 komandan Batalion PETA atau separuh lebih dari keseluruhan Batalion PETA, komandannya adalah Kyai atau pimpinan pesantren NU.
K.H. Zainul Arifin, Panglima Laskar Hizbullah
Dalam pertemuan tersebut, masing-masing pimpinan laskar memutuskan
untuk tetap melawan tentara sekutu sampai titik darah penghabisan.
Disusunlah kemudan taktik dan strategi perang melawan tentara sekutu
pada tanggal 10 November 1945. Para komandan laskar tahu betul bahwa
persenjataan tentara Inggris sangatlah lengkap, oleh sebab itu untuk
menghadapinya harus menggunakan taktik yang cerdik.
K.H. Masykur, Panglima Laskar Sabilillah
Tidak ada satupun kekuatan rakyat waktu itu yang menganjurkan
menyerah terhadap tentara sekutu. Semua komponen menolak tunduk dan
menyatakan siap angkat senjata dengan mempertaruh jiwa dan raganya.
Jihad Fi Sabilillah seperti begitu dirindukan.Laskar Dari Daerah Bergerak Menuju Ke Surabaya
Menjelang 10 November 1945, rakyat dan para laskar dari daerah dilaporkan bergerak menuju Surabaya. Dari Malang, dilaporkan ribuan orang berjalan kaki menuju Surabaya. Dari Tulungagung, Kediri, Jombang, ribuan orang bergelombang datang ke Surabaya naik kereta api. Dari pantura seperti Tuban, Bojonegoro, Lamongan dan Gresik juga dilaporkan di kampung-kampung terjadi mobilisasi massa sukarelawan untuk jihad ke Surabaya melawan Sekutu.
Laskar Hizbullah bergerak menuju Surabaya
Sebagian besar dari mereka sama sekali buta dengan gambaran musuh
yang akan mereka hadapi. Mereka tidak tahu apa itu tank, pesawat tempur,
dan peralatan militer lainnya. Namun, ketidaktahuannya itu justru
menjadikan mereka lebih bersemangat untuk melihat dari dekat. Sebagian
di antara mereka memamerkan pusaka-pusaka keluarga yang diyakininya
memiliki kesaktian akan mampu mengalahkan merian dan tank-tank sekutu.
Sejumlah pondok pesantren secara diam-diam juga terlibat menggelar
ritual pengisian energi kekebalan (‘asma’) terjadap sukarelawn yang akan
berangkat ke meden laga.Bersambung ke Bagian IX
0 komentar:
Posting Komentar