Selasa, 13 November 2012 20:46 wib
Menurut Said Aqil Siradj, memperingati Hari Pahlawan wajib pula hukumnya mengenang jasa para ulama NU yang dipimpin Rois Akbar NU Hadratus Syeikh Hasyim Asyari yang merumuskan Resolusi Jihad NU.
“Resolusi Jihad NU mewajibkan setiap muslim berjihad melawan siapapun yang akan kembali menjajah nusantara. Resolusi Jihad NU membakar darah juang kaum santri, para kiai dan warga republik lainnya. Maka 10 November adalah puncak pertempuran kaum santri, para kiai dan para pejuang lain dalam mewujudkan Resolusi Jihad NU dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hingga pasukan sekutu dibuat kewalahan. Tanpa Resolusi Jihad NU, tak ada NKRI,” terang Said Aqil Siradj dalam keterangannya, Selasa (13/11/2012).
Said Aqil Siradj menegaskan, peran ulama dan kiai NU yang tergabung dalam Laskar Sabilillah dan kaum santri yang terhimpun dalam Laskar Hizbullah dalam upaya perang melawan dan mengusir bangsa penjajah tidak boleh dinafikan. Atas dasar itu, pengungkapan kembali, pelurusan serta pengakuan terhadap sejarah Resolusi Jihad NU menjadi sangat penting agar generasi muda bisa mengetahui historis yang sebenarnya.
“Kita harus meneladani para ulama NU dalam berjuang dan menggali ilmu pengetahuan. Anak cucu kita, khususnya dari kalangan NU dan pesantren, supaya mengetahui dan patut bangga bahwa para pendahulu kita punya jasa yang besar terhadap bangsa dan negara,” kata Said Aqil Siradj.
Berdasarkan catatan sejarah, Said Aqil Siradj mengungkapkan, Laskar Hizbullah berada di bawah komando spiritual Hadratus Syeikh Hasyim Asyari dan secara militer dipimpin oleh KH. Zainul Arifin. Adapun Laskar Sabilillah dipimpin oleh KH. Masykur. Mereka yang berasal dari kalangan pesantren ini juga banyak yang menjadi komandan dan anggota tentara PETA (Pembela Tanah Air). Tetesan darah dan keringat serta perjuangan mereka telah tercatat di museum negara Belanda, sementara di negara sendiri belum mendapat tempat yang layak.
“PBNU sangat setuju dengan pernyataan sikap GEMASABA-PKB yang mendesak seluruh elemen bangsa dan negara agar Resolusi Jihad NU secara sah diakui faktanya dan segera dimasukan buku sejarah. Terkait dengan hal ini, NU sudah menyerahkan segala urusan, aspirasi politik dan perjuangannya ke PKB. NU ya PKB, PKB ya NU. Dua-duanya tidak bisa dipisahkan,” tegas Said Aqil Siradj.
Sementara itu, Ketua Umum DPP PKB sekaligus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Muhaimin Iskandar mengatakan, segenap komponen bangsa harus mengakui aksi heroik para kiai dan kaum santri NU dalam Resolusi Jihad NU, hingga meletus peristiwa dahsyat 10 November 1945.
“Selama ini kita masih melihat gambaran yang samar dalam menilai perjuangan dan peranan para kiai NU dan kalangan santri, bahkan terkesan telah terjadi pendistorsian sejarah Resolusi Jihad NU. Karena itu, segenap keluarga besar NU, PKB dan Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (GEMASABA) sebagai organisasi sayap kemahasiswaan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) harus terus mengingatkan dan mendorong kembali agar sejarah Resolusi Jihad NU tidak sampai tenggelam oleh hiruk pikuk persoalan negeri ini,” jelas Muhaimin Iskandar.
Menurut Muhaimin Iskandar, perlawanan para kiai NU dan kaum santri dalam mengusir pasukan sekutu dari buwi pertiwi tanpa menggunakan perlengkapan senjata yang memadai. Senjata dan pijakan mereka adalah cinta tanah air dan rakyat, tetesan darah, keringat, semangat juang yang diimbangi dengan doa.
“Mereka berjuang sungguh luar biasa sampai mempertaruhkan nyawanya demi memberikan yang terbaik bagi republik ini. Di sisi lain, mereka juga tidak pernah meminta balasan apapun. Ini harus kita tiru sebagai generasi penerusnya, terutama oleh para mahasiwa,” tutur Muhaimin Iskandar. (ugo)
0 komentar:
Posting Komentar