KH. As'ad Syamsul Arifin: Tokoh di Balik Berdirinya Nahdlatul Ulama
Ulama karismatik satu ini mungkin terkesan tenggelam dengan kebesaran nama KH. Hasyim Asy'ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama. Namun siapa sangka, beliau merupakan tokoh utama di balik layar berdirinya organisasi masa terbesar di Indonesia itu.
Ya, KH. As'ad Syamsul Arifin memiliki peran sangat penting karena menjelang dibentuknya NU beliau mendapatkan amanat dari gurunya, Syaikhona Khalil Bangkalan, untuk datang kepada KH. Hasyim Asy'ari di Tebu Ireng guna mengantarkan sebuah tongkat, diirngi bacaan surah Thoha ayat 17-23. Ayat itu secara umum menceritakan tentang nabi Musa dan tongkat sakti miliknya serta mukjizat lainnya. Oleh KH. Hasyim Asy'ari, amanat itu beliau maknai sebagai sebuah pesan dari gurunya (KH. Cholil Bangkalan) bahwa gurunya itu tidak keberatan apabila dirinya dengan para ulama lain mendirikan sebuah jam'iyyah.
Satu tahun kemudian KH. As'ad Syamsul Arifin ini juga mendapatkan tugas oleh Syaikhona Khalil untuk membawa tasbih yang dikalungkan di lehernya, disertai pesan agar KH. Hasyim Asy'ari mengamalkan bacaan yaa Jabbar dan yaa Qahhar setiap waktu. Pesan itu ditangkap oleh KH. Hasyim sebagai restu dari gurunya untuk segera mendirikan organisasi para ulama. Akhirnya NU berdiri pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926. Dalam perjalanan NU selanjutnya, KH. As'ad Syamsul Arifin ini senantiasa menjadi ulama yang aktif dalam jam'iyyah tersebut dan selalu bergabung dalam setiap kegiatan di dalamnya.
Pada tahun 1945 KH. As'ad Syamsul Arifin masuk ke dalam barisan Hizbullah dan bergerilya di daerah Jember. Beliau dikenal pula memiliki santri khusus yang disebut pelopor. Mereka bertugas langsung untuk mendakwahkan islam ke daerah-daerah yang masih kurang ulama dan pengetahuan agamanya. Selain itu tugas santri pelopor ini adalah untuk menyadarkan masyarakat "blateran", yaitu mereka yang suka "carok", di daerah tapal kuda Jawa Timur.
Menjelang wafatnya KH. Hasyim Asy'ari, beliau menerima wasiat secara khusus oleh Kyai hasyim untuk menjaga Jam'iyyah NU dan tidak boleh terpecah-belah.
Pada tahun 1955 hingga 1959 KH. As'ad Syamsul Airifn duduk menjadi anggota konstituante. Pada tahun-tahun inilah karir politik beliau terlihat melejit. Namun setelah Bung Karno membubarkan lembaga tersebut, beliau lebih suka kembali terjun ke dunia dakwah.
Lama nama beliau tenggelam, akhirnya pada tahun 1971 Beliau muncul kembali dan kali ini menjadi anggota DPRD Situbondo mewakili NU. Pada 1977 Beliau mendukung PPP karena saat itu NU mendukung PPP.
Pada tahun 1982 NU pecah menjadi dua kubu Cipete dan kubu Situbondo. Kubu Cipete dipimpin oleh KH. Idham Khalid dan dikenal sebagai kelompok politisi. Sedangkan kubu Situbondo dipimpin oleh KH. As'ad dan dikenal sebagai kelompok ulama. Beliau juga dikenal sebagai salah seorang penykong utama naiknya Gus Dur ke tampuk kursi ketua umum PBNU dalam muktamar NU ke-27 di Situbondo. Sedangkan Kyai As'ad masuk dalam struktur Mustasyar.
KH. As'ad Syamsul Arifin wafat pada hari sabtu tanggal 4 Agustus 1990 Masehi atau bertepatan dengan 13 Muharram 1411 Hijriyah. Beliau dimakamkan di areal pesantren Salafiyah Sukorejo berdampingan dengan makam ayahnya, KH. Syamsul Arifin. Beliau meninggalkan sebuah pesantren besar bernama Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo yang berdiri di atas lahan kurang lebih 15 hektad dengan santri kurang lebih 8000 orang.

0 komentar:
Posting Komentar