



Kyai
As'ad laksana samudera tak bertepi. Beliau semakin didekati kian
bertambah tidak kelihatan. Saya sangat berpengalaman. Bahkan saya pernah
mencium seluruh tubuhnya, kecuali yang memang tidak boleh.
Setelah
saya pijat selama hampir 3 jam, beliau tertidur sangat pulas. Saya
ciumi sekujur tubuhnya, dari ujung kepala sampai telapak kaki. Saya
tidak mendapatkan bau apa-apa. Sampai hati saya berkata, "beliau ini ada
atau tidak ada? Apakah ini orang yang dikatakan sudah berada di maqam
fana?"
Hampir
20 tahun saya hidup bersama beliau. Tambah dekat dan tambah lama,
semakin tidak kelihatan, sulit ditebak. Saya baru diberi tahu dan
mengerti, baru yakin siapa beliau ini, setelah saya sampai di Madinah
tahun 1987 saat ditunjuk sebagai petugas haji oleh pemerintah. Sebelum
berangkat haji, saya pun minta izin ke beliau.
"Pak
Mujib, pergi haji Sampean ini sunnah tapi sampai (datang) ke Haramain
tahun ini wajib (fardhu kifayah). Kalau Sampean tahun ini tidak datang
ke tanah Haram, dosa Sampean besar," kata Kyai As'ad.
"Kenapa?" tanyaku.
"Jawabnya nanti di sana, bukan di sini," kata Kyai As'ad.
"Namun Sampean jangan berkecil hati. Sampean saya pinjami ijazah.
Setelah pulang, ijazah tersebut harus dikembalikan. Tidak boleh dipakai
terus."
"Kalau saya sudah hafal bagaimana, Kyai?" tanyaku.
"Ya terserah, kalau Sampean jadi bajingan."
Sampai
larut malam, saya tidak diperbolehkan pulang. Saya disuruh pulang besok
pagi. Tapi ijazah itu, tidak 'dipinjamkan' sampai saya tertidur.
Ternyata, dalam tidurku itu saya ditalqin ijazah. Lalu saya ditanya
apakah masih punya wudhu. Saya jawab, masih punya. Baru kemudian saya
ditalqin.
Menjelang
Shubuh saya pun terbangun. Ternyata di bawah bantal ada secarik kertas
yang ditulis oleh Kyai As'ad. Bunyinya persis seperti ijazah dalam tidur
tadi. Mungkin beliau takut saya lupa.
Setelah saya pulang dari haji, beliau sudah ada di rumah saya ingin mengambil ijazah itu. "Saya tidak minta oleh-olehnya, Pak Mujib. Hanya saja ijazah itu harus dilembalikan," kata Kyai As'ad. Mungkin, ijazah itu takut disalahgunakan.
Alhamdulillah
saya berhasil menunaikan ibadah haji. Ada beberapa peristiwa yang saya
alami, yang hanya bisa saya ceritakan kepada Kyai As'ad. Semuanya saya
ceritakan. Lalu saya bertanya: "Ada satu Kyai, yang menyangkut Panjenengan."
"Lho, sampean ke sana mau ngurus saya juga ya?" Tanya Kyai As'ad dengan nada marah.
Saya pun dimarahi oleh beliau. "Sampean ke sana dengan saya pinjami ijazah segala, jadi ngobyek saya juga ya? Kurang ajar Sampean ini!" katanya agak marah.
"Ya tidak begitu, Kyai. Masa saya sudah ikut Panjenengan hampir 20 tahun, kok tidak tahu siapa sebenarnya Panjenengan?" jawabku.
"Lha iya, Sampean ngobyek, ingin tahu saya. Apa hasilnya?"
"Ayat apa?" Tanya Kyai As'ad.
"Ayat al-Quran. Dengan syarat, kalau Panjenengan mau. Kalau tidak mau ya tidak usah!" jawabku.
"Lha wong 'Bos' di sana bilang begitu, Kyai," kata saya melucu.
Ceritanya, sewaktu di tanah Haramain saya bertemu 'Bos'. Kata Bos: "Kalau Kyai As'ad tidak mengaku siapa sebenarnya beliau, bacakan ayat ini. Dengan catatan beliau harus mau."
"Kalau tidak mau, ya saya tidak akan pernah tahu siapa Kyai As'ad," jawabku. Karena itu saya pun mendesak 'Bos' itu.
Lalu 'Bos' berkata: "Ya... tidak maunya itu ngakunya!"
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
"Maka bagaimana jika Kami mendatangkan saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka?" (QS. an-Nisa ayat 41).
Belum
selesai saya membaca ayat tersebut, beliau menangis sejadi-jadinya,
menjerit sampai bercucuran air mata. Inilah pengakuan yang tidak bisa
dihindari. Saya tembak di tempat dengan resep 'Bos' tadi. Ya, jangan
tanya siapa 'Bos' tersebut.
Saya
tunggu. Beliau nangis hampir satu jam, itu pun masih terisak-isak
seperti anak kecil. Lalu saya diajak salaman. Ketika saya mau mencium
tangan beliau, tidak diperbolehkan. "Kali ini Sampean tidak saya izinkan mencium tangan saya," kata Kyai As'ad masih dalam keadaan terisak.
Saya pucat. "Wah, haji saya kali ini mardud (tertolak),"
begitu dalam benak saya. Mengapa? Sebab saya telah membuka rahasia
besar, yang di dunia ini orangnya hanya satu. Wali Quthub ini, di dunia
hanya satu. Itu rahasianya saya buka, walaupun saya disuruh 'Bos'.
"Pak
Mujib, apa Sampean tidak keberatan belas kasihan sama saya. Saya minta
belas kasihan Sampean. Saya minta belas kasihan Sampean agar jangan
sampai ngomong kepada orang lain selama saya masih hidup, siapa diri
saya ini!" Pinta Kyai As'ad kepadaku. (Disadur dari buku berjudul "Kharisma Kyai As'ad di Mata Umat").(padhang-mbulan.org)
0 komentar:
Posting Komentar